Catatan-Catatan Sejarah Mengenai Naga

Literatur mengenai keberadaan naga di bumi dapat ditemukan dalam catatan-catatan kuno yang disampaikan oleh Alexander Agung, Onesicritus, Atilius Regulus, Zakariya al-Qazwini dan Marco Polo. Selain mereka, terdapat beberapa literatur lain yang ditulis sebelum dan pada era abad pertengahan.

Philostratus (170 – 250 Masehi) mengatakan bahwa India adalah rumah bagi naga. Ia menulis dalam bukunya The Life of Apollonius of Tyanna:

|| Seluruh India dipenuhi naga berukuran besar. Tidak hanya rawa-rawa yang penuh dengan mereka, tetapi gunung-gunung juga, dan tidak ada satu pun punggungan (ridge) melainkan pasti dihuni oleh mereka. ||

Penulis Claudius Aelianus (175 - 235 Masehi) menjelaskan naga dalam bukunya yang berjudul On Animals. Ia mengatakan bahwa Ethiopia pada zaman dahulu dihuni oleh spesies naga yang memburu gajah dan bisa tumbuh hingga panjang 55 meter. Naga tersebut dikatakan memiliki usia hidup yang lebih lama dibanding hewan apapun yang ada di bumi.

Naturalis Conrad Gessner (1516 - 1565 Masehi) menulis tentang naga seolah-olah mereka adalah makhluk hidup yang lazim dijumpai. Ia memberikan satu deskripsi tentang seekor naga yang terlihat di Irlandia pada abad kesepuluh masehi. Disebutkan bahwa naga itu memiliki kepala seperti kuda, ekor yang kuat dan tebal, serta kaki yang memiliki cakar.

Naturalis Ulisse Aldrovandi (1522 - 1605 Masehi) menulis tentang
kisah seorang gembala yang membawa kawanan ternaknya di pedesaan Bologna ketika ia bertemu dengan naga kecil yang menghalangi jalannya dan mendesis padanya. Sang gembala kemudian membunuh makhluk itu dan membawa bangkainya. Aldrovandi, yang juga dari Bologna, mengklaim memiliki bangkai naga, dan menghabiskan banyak waktu untuk mengamati spesimen itu. Ia berspekulasi bahwa itu adalah naga yang masih muda. Aldrovandus juga memiliki lukisan cat air dari makhluk tersebut.

Catatan sejarah mengenai naga juga dapat ditemukan dalam Aberdeen Bestiary. Aberdeen Bestiary adalah manuskrip berbahasa Inggris abad ke-12 yang pertama kali terdaftar pada tahun 1542 Masehi dalam inventaris Perpustakaan Old Royal (Palace of Westminster). Dalam salah satu keterangan tertulis:

|| Naga itu memiliki jambul, mulut kecil, dan lubang tiupan sempit yang melaluinya ia bernafas dan mengeluarkan lidahnya. Kekuatannya bukan terletak pada taring tetapi pada ekornya, dan ia membunuh dengan pukulan bukannya gigitan. Selain itu, gigitan naga tidak mengandung racun. Mereka mengatakan bahwa naga tidak perlu racun untuk membunuh, karena naga membunuh dengan cara membelit menggunakan ekornya. Gajah, dengan ukurannya yang besar, tidak aman dari serangan naga. ||

Penulis Edward Topsell (1572 - 1625 Masehi) memberi informasi mengenai naga dalam bukunya The History of Four-Footed Beasts and Serpents. Dalam salah satu keterangan tertulis:

|| Ada beberapa naga yang memiliki sayap dan tanpa kaki, beberapa lagi memiliki kedua kaki dan sayap, dan beberapa tidak memiliki kaki atau sayap, tetapi hanya dibedakan dari jenis ular biasa dengan sisir yang tumbuh di atas kepala mereka, dan janggut di bawah pipi mereka. Tubuh mereka diatur dengan sisik yang sangat tajam, dan di atas mata mereka berdiri kelopak mata yang fleksibel. Ketika mereka membuka mulut dan mengulurkan lidah mereka, taring mereka tampak sangat mirip dengan gigi babi liar. Selain itu leher mereka memiliki banyak rambut tebal yang tumbuh di atas mereka, seperti bulu babi hutan. Mulut mereka, (terutama naga yang jinak) berukuran kecil, tidak lebih besar dari pipa. Dengan itu mereka menarik napas, karena mereka melukai bukan dengan mulut mereka, tetapi dengan ekor mereka. Walaupun demikian naga India, Etiopia, dan Frigia memiliki mulut yang sangat lebar. Dengan itu mereka sering menelan unggas dan binatang besar utuh. ||

Secara ilmiah, terdapat dua aspek yang menunjukkan bahwa naga mampu untuk terbang. Aspek pertama adalah sayap. Berdasarkan simulasi, naga mampu terbang secara optimal dengan sayap pendek dan lebar dibandingkan dengan ukuran tubuhnya untuk kemampuan manuver yang lebih baik di lingkungan hutan. Mereka juga memiliki ekor yang lebih panjang untuk mengimbangi kemampuan terbang pada sayap.

Aspek kedua adalah ukuran. Ukuran naga sebanding dengan ukuran dinosaurus besar, dan kemungkinan naga itu akan berevolusi dengan mekanisme serupa untuk meringankan massa tubuhnya. Burung mengurangi berat dengan menjadikan tubuh mereka penuh dengan ruang udara yang terhubung ke paru-paru, beberapa di antaranya bahkan meluas ke tulang.

Dinosaurus dibangun dengan cara yang sama. Ada penelitian yang mengungkap bahwa konstruksi paru-paru yang terhubung ke sistem kantung udara yang membentang di seluruh anatomi hewan, ditemukan sangat umum pada reptil seperti buaya. Menurut peneliti, naga mungkin 'melayang' seperti balon dan tidak terikat oleh aerodinamika.

Apa yang disampaikan oleh Marco Polo bahwa naga adalah makhluk buas dan berbahaya dibenarkan oleh Nabi Muhammad (Saw). Ibnu Umar (ra) meriwayatkan sebagai berikut:

Setiap kali Rasulullah (ﷺ) berangkat dalam sebuah perjalanan, beliau akan berkata pada malam hari: "Ya ardu, Rabi wa Rabbuk-illahu, a'udhu billahi min sharriki wa sharri ma fiki, wa sharri ma khuliqa fiki, wa sharri ma yadibbu 'alaiki; a'udhu billahi min sharri asadin wa aswadin, wa minal-hayyati wal-'aqrabi, wa min sakinil-baladi, wa min walidin wa ma walad [Wahai tanah, Rubb saya dan Rubb Anda adalah Allah, saya mencari perlindungan di dalam Dia dari kejahatan Anda, kejahatan dari apa yang Anda miliki, kejahatan dari apa yang telah dibuat dalam diri Anda, dan kejahatan dari apa yang berjalan di atas Anda. Saya mencari perlindungan kepada Allah dari singa, naga hitam, kalajengking dan dari penduduk setempat, dan dari orang tua (yaitu, Setan) dan keturunannya yang mendiami pemukiman (yaitu, pembantu dari antara iblis)]. " (Riyad as-Salihin, Book 8, Hadith 983).

Wallaahu a’lam bishawaab.